Rabu, 20 Juni 2012

Kepribadian Umar Bin Khattab (Part 1)


  1. Kepribadian Umar Umar bin Khattab
By: Anas Malik
Ketika membahas tentang  khalifah Umar bin Khattab, maka kita akan mengenal lebih jauh tentang kepribadianya. hal ini bertujuan untuk mengenal lebih jauh tentang kepribadian Umar bin Khattab sebagai seorang kepala Negara yang dikenal dengan keberhasilan-nya memimpin negara, kepribadian seorang pemimpin akan mewarnai pemerintahannya.
Para sejahrawan menyebutkan nasab Umar bin Khattab dari pihak ayahnya dan ibunya dengan mengatakan : “ Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdil ‘Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin Adi bin Ka’ab bin Luayyi bin Ghalib Al-Qurasyi Al-Adawi. Sedangkan ibunya adalah; Hantammah binti Hasyim bin Mughirah, dari Bani Makhzumi, dimana Hantamah adalah saudara sepupu Abu Jahal.1 Ia biasa dipanggil Abu Hafsh dan digelari Al-Faruq, karena ia menampakan Islam ketika di mekah, maka Allah SWT memisahkan dengan Umar antara kekufuran dan keimanan.2
Umar bin Khattab di lahirkan 30 tahun sebelum masa kenabian, dan ada pula yang berpendapat seperti itu, ia hidup selama 65 tahun, separuh pertama kurang lebih dalam kekelaman jahiliyah. Ketika itu dia adalah orang yang tidak dikenal, tidak memiliki nama dan keagungan. Sedangkan yang separuh keduanya dalam cahaya iman, dimana dalam masa ini, namanya menjadi terkenal dan termasuk dalam sala satu tokoh besar. Titik peralihan ini adalah saat dia mengucapkan: “Aku bersakasi tiada tuhan melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah.” Ketika itulah Umar benar-benar ‘dilahirkan’ dan hidupnya mulai berpengaruh dalam percaturan sejarah.3
Berbagai referensi menggambarkan sosok Umar ra bahwa beliau berbadan tinggi lagi besar, lebat bulu badanya, terurai rambutnya dari kedua sisi kepalanya, berkulit putih kemerah-merahan dan ada yang mengatakan cokelat muda, berjenggot lebat, dan berkumis tebal.4
Disamping sifat-sifat tersebut, Umar juga memilki sifat-sifat kejiwaan yang luhur, diantaranya: adil, penuh tanggung jawab, santun terhadap rakyat dan sangat antusias dalam merealisasikan kemashalatan mereka, tegas dalam urusan agama, cerdas pemahamanya, dan sifat-sifat lain yang tidak mungkin disebutkan seluruhnya.5
Kunci kepribadian Umar adalah keimananya kepada Allah SWT, Iman inilah yang menyebabkan adanya keseimbangan dan daya tarik daam kepribadian Umar bin Khattab. Karenanya, kekuatan tidak membuatnya menyimpang dari keadilannya, kekuasaanya tidak membuat menyimpang dari kasih sayangnya, dan kekayaannya tidak membuat-Nya menyimpang dari sikap rendah hatinya. Ia menjadi orang yang berhak memperoleh pengokohan dan pertolongan dari Allah SWT.6
Semasa anak-anak Umar dibesarkan seperti layaknya anak-anak Qurais. Yang kemudian membedakannya dengan yang lain, ia sempat belajar baca-tulis, hal yang jarang sekali terjadi di kalangan mereka. Dari semua suku Quraisy ketika Nabi diutus hanya tujuh belas orang yang pandai baca-tulis. Sekarang kita mengatakan bahwa dia termasuk istimewa diantara teman-teman sebayanya. Orang-orang Arab masa itu tidak menganggap pandai baca-tulis itu suatu keistimewaan, bahkan mereka malah menghindarinya dan menghindarkan anak-anaknya dari belajar.7
Pada masa jahiliyah, Umar diwaktu kecilnya suka menggembala kambing kepunyaan keluarganya, ia seorang yang selalu diutus keluar negri untuk urusan diplomasi, jika terjadi peperangan diantara kabilah, dialah yang kerap kali dipilih menjadi orang perantara.
Pada masa jahiliyahnya, Umar bin Khattab dengan gigih mempertahankan segala sesuatu yang sudah menjadi tradisi suku Quraisy berupa tradisi, ritual peribadatan, dan system sosial. Ia memiliki sifat tulus yang menjadikanya rela mengorbankan jiwanya demi untuk mempertahankan sesuatu yang diyakininya. Dengan sikapnya demikian itu, maka ia menentang agama Islam pada awal dakwah Islam. Umar merasa khawatir kalau-kalau agama baru ini meruntuhkan system sosial politik dan budaya Makkah yang sudah mapan. Saat itu, Makkah memang memiliki posisi yang sangat strategis di kalangan bangsa Arab. Dikota ini terdapat rumah Tuhan (Ka’bah) yang selalu di kunjungi orang-orang Arab. Hal nilah yang membuat suku Quraisy memiliki posisi strategis dikalangan bangsa Arab dan menjadikan Makkah memilki kekayaan spiritual dan material.8
 Bersambungg.....





 
1 Jaribah bin Ahmad Al-Haritsi, Al-FiqhAl-Iqtishadi Li Amiril Mukmin Umar ibnu Al-Khattab, alih bahas, Asmuni Solihan Zamakhsyari, Fikih Ekonomi Umar bin Al-Khattab, khalifah, Jakarta, 2006, Hlm:17

2 Muhammad Ash-Shalabi, Syakhsiyatu Umar wa Aruhu, alih bahasa, Khorul Amru Harahap dan Akhmad faozan, The Great Leader of Umar bin Khattab, Pustaka Al-kautsar, Jakarta, 2008, Hlm:15

3 Jaribah bin Ahmad Al-Haritsi, op.cit,.hlm.18

4 .Jaribah bin Ahmad Al-Haritsi, op,cit,.hlm:19

5 Ibid,.

6 Muhammad Ash-Shalabi, op,cit.,hlm.172-173

7 Muhammad Husain Haekal, Al-Faruq 'Umar, alih bahasa, Ali Audah, Pustaka Litera Antar Nusa, cet-III, Jakarta, 2002, Hlm.59

8 Muhammad Ash-Shalabi,op.cit.,21

0 komentar:

Poskan Komentar